Menghidupkan Kembali Wayang Kulit Palembang

http://oase.kompas.com/read/2012/01/27/0000325/Menghidupkan.Kembali.Wayang.Kulit.Palembang

.

.

Wayang kulit palembang ditampilkan pada malam penganugerahan penghargaan seni Batanghari Sembilan 2011 di Palembang, Sumatera Selatan. Bayangan Semar tampak samar-samar di layar, mengingatkan nasib wayang kulit palembang yang juga timbul tenggelam.

Jumat (23/12) malam, di Ruang Sriwijaya, Hotel Swarna Dipa, Palembang, dalang muda Cek Agus Wirawan Rusdi (38) menghidupkan anak-anak wayang dengan sabetan-sabetannya. Lakon yang dimainkan, Ukir Gelung Negak Belabar Kawat, menjadi sajian utama pada malam penganugerahan seni Batanghari Sembilan yang diselenggarakan Dewan Kesenian Sumatera Selatan.

Lakon yang disutradarai seniman Palembang, Vebri Al Lintani, itu bercerita tentang Prabu Ukir Gelung menyelenggarakan sayembara adu kesaktian untuk mencarikan suami bagi putrinya, Dewi Trisna. Sayembara dimenangi Arjuno, yang mengalahkan musuh berat bernama Bambang Sriguno.

Panggung wayang lengkap dengan anak-anak wayang, gunungan, belencong tanpa api, layar, pengrawit, dan seperangkat gamelan. Sekilas mirip dengan wayang purwa di Jawa. Perbedaan yang langsung tertangkap, musik pembukanya demikian rampak diwarnai pengaruh Melayu, sangat berbeda dengan musik gamelan yang mendayu-dayu.

Cek Wirawan mengatakan, ciri khas wayang kulit palembang adalah selalu dimainkan urut dari kelas raja, bangsawan, kemudian tokoh awam pada pertengahan cerita. Hal ini dimaknai bahwa setiap pemimpin harus berjalan di depan untuk menjadi panutan. Ini berbeda 180 derajat dengan wayang purwa.

Dari sisi cerita, wayang palembang terkesan lebih cair dibandingkan dengan wayang kulit di Jawa yang sering kali dikaitkan dengan sakralitas dan filosofi mendalam. Kesan dinamis terasa dengan musik rancak dan pembacaan puisi ataupun cerita pendek yang berselang-seling di jeda tiap babak.

Meskipun masih menggunakan tokoh-tokoh Mahabharata, wayang kulit palembang umumnya menampilkan kisah yang dikembangkan sendiri, terlepas dari epos Bharatayudha. Perbedaan juga terdapat pada beberapa tokoh yang tak ada di wayang kulit jawa, seperti Pendita Cakromayo, Prabu Indropuro, Prabu Bantarangin, dan Suryadadari.

Keberagaman budaya

Jelas terlihat, wayang kulit palembang memperlihatkan keberagaman budaya yang pernah singgah di daerah itu. Kesenian ini seolah mencerminkan masyarakat Palembang yang telah kosmopolitan sejak zaman Kerajaan Sriwijaya.

Cek Wirawan mengatakan, wayang kulit palembang tak bisa lepas dari pengaruh budaya Jawa yang masuk ke Palembang setelah Kerajaan Sriwijaya berakhir, sekitar abad ke-20. Disebutkan, saat itu Arya Damar, wakil dari Kerajaan Majapahit di Jawa, menjadi penguasa Palembang dan membawa pengaruh budaya Jawa.

Seiring dengan waktu, wayang kulit palembang berkembang sesuai dengan kebudayaan masyarakat setempat. Hal ini memperlihatkan masyarakat Palembang yang tak sekadar menelan mentah-mentah produk budaya dari luar. Masyarakat mampu menerima budaya luar secara terbuka serta mengolahnya sehingga produk budaya itu mempunyai identitas baru yang sesuai dengan identitas lokal.

Dari bahasa, keberagaman budaya terlihat jelas. Bahasa yang digunakan adalah bahasa palembang halus yang merupakan campuran dari bahasa jawa tinggi (krama halus) dan bahasa melayu.

Pada goro-goro, Cek Wirawan menghidupkan Semar, Petruk, Gareng, dan Bagong dalam bahasa Palembang sehari-hari. Adegan yang mengundang tawa ini justru memuat pesan penting.

Lewat petuah Semar kepada anak-anaknya, Cek Wirawan menyampaikan keprihatinan dia terhadap lunturnya budaya di Palembang saat ini. ”Baso halus Palembang mak ini hari katik lagi yang pake (Bahasa halus Palembang sekarang ini sudah tak ada lagi yang menggunakan),” ujar Semar.

Hampir punah

Cek Wirawan menuturkan, wayang kulit palembang adalah kesenian yang hampir punah. Pertunjukan sudah hampir tak ada lagi. Para dalang yang cukup dikenal pun satu per satu meninggal dunia tanpa penerus. Padahal, sebelum tahun 1960, kesenian ini dikenal luas dengan beberapa dalang terkenal.

Begitu langkanya wayang kulit ini sehingga banyak warga kelahiran Palembang tak mengetahui bahwa Palembang mempunyai wayang. Pertunjukan pada malam penganugerahan penghargaan seni Batanghari Sembilan itu menjadi sangat dinantikan penonton.

”Saya belum pernah dengar Palembang punya wayang kulit, apalagi melihatnya. Saya jadi sangat ingin tahu seperti apa sebenarnya wayang palembang itu,” kata Deddy Pranata (28), salah satu penonton, yang kelahiran Palembang.

Cek Wirawan adalah satu-satunya dalang wayang kulit palembang yang ada saat ini. Lelaki yang sehari-hari berdagang barang kelontong itu merupakan generasi ketiga dalang di keluarganya, mengikuti jejak kakek dan ayahnya. Ki Agus Rusdi Rosyid, ayah Cek Wirawan, adalah dalang wayang kulit palembang yang meninggal pada tahun 2002.

Meski sudah turun-temurun, Cek Wirawan baru mulai belajar wayang palembang sekitar tahun 2004, setelah mendapat bantuan seperangkat wayang kulit dan gamelan dari Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO). Sebelum ada bantuan itu, ia kesulitan belajar karena perangkat wayang keluarganya terbakar saat rumah mereka terbakar tahun 1985.

Tak mudah menghidupkan lagi wayang yang hampir punah itu. Tak ada lagi dalang yang dapat menjadi guru. Buku referensi pun tak tersedia. Cek Wirawan harus belajar dari kaset-kaset lama.

Tujuh tahun sudah berlalu sejak kebangkitan kembali wayang kulit plembang. Para seniman Palembang pun terus berusaha menghidupkan layarnya.(Irene Sarwindaningrum)

Iklan